Sunday, August 14, 2016

Bicara IoT dengan Jagoan Teknologi Indonesia, Onno W. Purbo


Bicara IoT dengan Jagoan Teknologi Indonesia, Onno W. Purbo

by The Daily Oktagon



Pada sore yang sejuk di Bandung, awal Juni lalu, Onno W. Purbo terlihat semangat berbagi ilmu seputar Internet of Things (IoT).  IoT mulai ramai dibicarakan di Indonesia sejak awal 2015. Kepada para peserta meet-up Komunitas IoT Indonesia, Onno menjelaskan dengan antusias.
Onno, yang kelahiran Bandung, 17 Agustus 1962 ini, memang pakarnya teknologi dan mahir berbicara mengenai perkembangan teknologi di Indonesia. Sebagai seorang pakar teknologi, berbagai tindakan dan inovasi yang dia ambil tak jarang menuai sensasi dan atensi publik. Sebut saja perjuangannya dalam membebaskan Frekuensi 2.4 gigahertz Wajanbolic, sampai konsep VoIP Rakyat serta RT/RW-net di seluruh Indonesia.
Setelah berkeliling dunia dalam meraih gelar master di bidang teknologi, Onno sempat menjadi dosen Institut Teknologi Bandung pada awal 2000. Tak bertahan lama, akhirnya dia memilih jalur sendiri di luar jalur formal untuk berbagi ilmu melalui tulisan atau cyber-learning. Belum lagi, penganut paham filosofi copyleft ini membiarkan belasan buku yang sudah ditulis, untuk disalin oleh siapapun.
Regular_Image_-_Onno_1
Tidak hanya di Indonesia, nama Onno juga cukup diperhitungkan secara global. Ia pernah mendapat undangan sebagai pembicara di planery session Conference Access to Knowledgeyang diselenggarakan oleh Yale Law School di Yale University, Amerika Serikat, pada 2006. Dalam konferensi itu, ia berbagi pengetahuan dengan lebih dari 40 negara soal isu teknologi di dunia.
Fokus presentasi Onno saat itu adalah tentang pengalaman turun lapangan di Indonesia dalam mengatasi keterbatasan akses internet selama 12 tahun. Ia menggambarkan bagaimana niat besar untuk mengedukasi bangsa, mengajak anak muda menulis buku untuk berbagi pengetahuan, membangun berbagai mailing list, secara swadaya di masyarakat.
Seusai presentasi, Onno mengaku terkejut pada respons peserta pada keynote speech-nya yang terbilang rebellious saat itu. Dari seluruh konferensi, presentasi Onno paling mendapat apresiasi. Banyak pakar dan profesor dari berbagai kampus yang menyalami. Sampai-sampai Sarah Kerr, pakar dari BellaNet Canada, melabeli Onno sebagai pemberi ceramah terbaik diConference Access to Knowledge di Yale Law School. Sejak saat itu, ia langsung mendapat berbagai tawaran dari berbagai negara untuk memberikan ceramah inspirasi, antara lain di Berlin, Ghana, serta Belanda.
Kini, pria yang sempat diusung menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika melalui sebuah petisi ini sedang gencar mengkampanyekan melek IoT di Indonesia. Simak wawancara berikut ini.
Apa kesibukan yang sedang Anda jalani saat ini?
Eksperimen serta menulis beberapa buku dengan topik seperti IPv6, streaming video, OpenBTS, dan lain-lain.
Bagaimana perkembangan IoT di Indonesia?
Komunitas IoT lumayan berkembang. Sayangnya, kurikulum di kampus-kampus Indonesia masih gaptek banget! Jadi, jujur, secara formal Diknas (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) memang ketinggalan zaman. Alhasil, SDM-nya harus belajar secara informal karena ilmu Internet of Things tidak mungkin mereka dapat di pendidikan formal.
Caranya sederhana sebenarnya. Dosen-dosen jangan cuma teori di kampus saja, harus orang-orang yang pernah di lapangan, biar enggak gaptek.
Adakah wadah informal, seperti komunitas IoT Indonesia, yang bisa diikuti paramakers yang ingin mendapatkan pengetahuan seputar IoT?
Ada, itu yang sedang dilakukan sekarang. Cuma kan itu sifatnya informal. Sementara proses informal itu lama dan sangat sedikit orang yang akanjadi. Kita butuh banyak orang yang jadi.
Sejauh apa potensi Indonesia pada perkembangan IoT?
Potensinya besar sekali. Barang-barang yang digunakan murah-murah, juga. Beberapa hari lalu anak-anak (komunitas) kasih lihat saya Access Point seharga Rp70.000 saja. Cuma memang masih dibutuhkan SDM yang andal buat ngoprek itu semua.
Apakah industri teknologi di Indonesia sudah siap adaptasi dengan IoT?
Hasilkan SDM dulu yang terpenting. Tanpa SDM kita tidak usah bicara adaptasi dulu, deh.
Sebagai inovator, produk IoT seperti apa yang perlu ada di Indonesia?
Yang pasti produk yang sangat dibutuhkan di Indonesia, misalnya sensor-sensor pada pipa minyak untuk sebuah perusahaan di Sumatera. Kondisinya, perusahaan tersebut memang butuh teknologi itu, dan memang punya uang. Selain itu, yang cukup booming adalah usahatracking GPS pada mobil.
Perusahaan-perusahaan angkutan ke depannya bisa melakukan tracking kendaraan dan melihat kondisi kendaraan. Satu lagi, para pedagang CCTV juga mulai bisa menyalurkan video dengan Internet of Things.
Apa rencana dan langkah pribadi Anda dalam era IoT ini?
Pribadi, ya? Sejauh ini saya mau ngoprek saja. Memang dari dulu kerja saya ngoprek dan bikin buku. Mau buat perusahaan tapi malas harus menghadapi urusan izin dan pajak. Tidak sanggup, rasanya.
Apa dukungan pemerintah yang diperlukan di era IoT?
Pertama, ubah kurikulum (pendidikan). Sebisa mungkin hasilkan SDM teknik yang banyak untuk industri. Sekarang ini SDM teknik cuma sembilan persen dari total seluruh mahasiswa di Indonesia. Untuk birokrasi, pemerintah juga harus permudah izin, pajak, dan pastikan tidak ada tukang palak.
Bagaimana IoT bisa berhasil di Indonesia?
Perbanyak SDM yang suka ngoprek, perbaiki kurikulum jangan cuma teori saja, perbaiki ekosistem supaya tukang ngoprek hidup, dukung industri manufaktur—jangan cuma jadi sales pabrikan luar negeri saja.
Pada acara dengan Komunitas IoT Indonesia beberapa waktu lalu di Bandung, Anda bicara tentang Raspberry Pi dan pemanfaatannya untuk IoT. Aslinya, alat ini untuk apa?
Aslinya Raspberry Pi untuk anak-anak SD di Inggris buat belajar komputer. Di Indonesia, kebanyakan menggunakan Raspberry Pi buat ngoprek. Salah satu produk sejenis adalahArduino.
Anda sendiri sudah sejauh mana ngoprek dengan Raspberry Pi dan mengimplementasikannya?
Saya lebih untuk bikin server kecil, juga untuk buat smart TV dari TV murah. Untuk smart TV,hardware tambahannya hanya kabel HDMI saja, sedangkan software-nya menggunakanOpenELEC. Untuk server, saya menggunakan sistem operasi Raspbian buat Raspberry Pi. Raspbian itu basisnya Linux biasa, terserah mau diprogram apa aja juga bisa.
Platform mobile consumer punya dua nama besar, Google dan Apple, sementara IoT belum ada. Kenapa belum ada perusahaan teknologi besar yang serius bermain di sini? Apakah IoT ini masih buzzword saja, belum punya business value?
Sepertinya. IoT segmennya lebih ke industri, bukan ke end-user biasa. Jadi dari sisi user biasa, sebenarnya mereka tidak perlu atau tidak usah tahu secara teknik IoT itu apa. Cukup bisa pakai saja.
Contoh, mesin pembayaran buat bayar kartu kredit, mesin bayar tol, alat-alat buat sensor banjir, dan lain-lain. Itu semua bisa diimplementasikan dengan IoT. Masyarakat cukup terima jadi saja. Mereka sebenarnya tidak perlu tahu itu IoT.
Isu atau risiko apa yang saat dihadapi IoT? Apakah privacy dan pencurian data termasuk? Dan bagaimana isu ini bisa diatasi ke depannya?
Karena “makhluk” IoT berjalan pakai internet, teknik security-nya sama saja dengan produk yang terhubung internet lainnya. Bisa pakai SSL, VPN, dan lain-lain.
Sejauh ini, bagaimana “taring” Indonesia di dunia dalam perkembangan teknologi?
Ada segelintir orang yang menonjol. Cuma sebagian besar adalah orang-orang di birokrasi, administrasi, dan manajemen saja. Sementara tukang ngoprek, tukang bikin, kurang didukung oleh dana, birokrasi, dan manajemen itu.
Fenomena Go-Jek dan GrabBike cukup menjadi sesuatu yang cukup besar dan berpengaruh di Indonesia. Dari pengamatan Anda, apa saja faktor yang membuat hal itu begitu masif?
Sederhana saja. Karena bermanfaat untuk orang banyak dan menggunakan media yang dipakai oleh orang banyak
Pesan untuk para makers di Indonesia?
Makers
 adalah kemampuan yang langka. Tidak banyak orang Indonesia yang mampu sampai tahapan makers. Kalau Anda tidak dukung oleh pemerintah jangan kecil hati. Cari saja pekerjaan di luar negeri. Semoga sukses!

No comments:

Post a Comment

Map Security needs to DevSecOps tools in SDLC.

  Map Security needs to DevSecOps tools in SDLC. Implementing DevSecOps effectively into the SDLC involves adopting the right tools, adaptin...